Kamis, 27 Januari 2011

PSIKOLOGI SEBAGAI ILMU YANG MANDIRI

Tahun 1879, psikologi dikatakan sebagai ilmu yang mandiri oleh Wilhelm Wundt dengan didirikannya Laboratorium Psikologi pertama di dunia, di Leipzig.
Tahun 1860, bibit psikologi sosial mulai tumbuh ketika Lazarus dan Steindhal belajar bahasa, tradisi, dan institusi masyarakat untuk menemukan “jiwa umat manusia” yang berbeda dari “jiwa individual”.
Tahun 1880, Wundt mempelajari “Psikologi Rakyat” dan menyejajarkannya dengan psikologi individual dalam eksperimennya.
Gustav Theodore Fechner (1807-1887) seorang pemula psikologi eksperimental sudah melakukan eksperimennya belasan tahun sebelum Wundt mendirikan laboratorium psikologi. Padahal saat itu psikologi belum diakui sebagai ilmu yang berdiri sendiri.
Tokoh lainnya yaitu Herman Ludwig Ferdinand von Helmholtz (1821-1894). Ia menentang adanya mentalism, menurutnya psikologi merupakan pengetahuan eksak. Tahun 1850, Hemholtz menghitung kecepatan jalannya impuls. Ia juga menyelidiki tentang pengamatan, kemudian megeluarkan doktrin yang disebut “unconscious inference atau unbewussterschluse” yaitu penyimpulan terhadap suatu rangsang dipengaruhi faktor yang tidak disadari.
Sejak psikologi berdiri sendiri, timbul berbagai aliran psikologi yang bercorak khusus. Adapun cirri-ciri khusus sebelum abad ke-18 antara lain:
1. Bersifat elementer, berdasarkan hukum sebab akibat.
2. Bersifat mekanis
3. Bersifat sensualities-intelektualis (mementingkan pengetahuan dan daya piker)
4. Mementingkan kuantitas.
5. Hanya mencari hokum
6. Gajala-gejala jiwa dipisahkan dari subjeknya
7. Jiwa dipandang pasif
8. Terlepas dari materi-materi
Ciri-ciri khas psikologi kuno berdasarkan filsafat dan ilmu alam.
Ciri-ciri khas dari psikologi modern antara lain (Effendi&Praja 1993:30-31)
1. Bersifat totalitas
2. Bersifat teologis (bertujuan)
3. Vitalistis biologis (jiwa dipandang aktif dan bergerak dalam hidup manusia)
4. Melakukan pendalaman dan penyelaman terhadap jiwa
5. Berdasarkan nilai-nilai
6. Gejala-gejala jiwa dihubungkan dengan subjeknya
7. Memandang jiwa aktif dinamis
8. Mementingkan fungsi jiwa
9. Mementingkan mutu atau kualitas
10. Lebih mementingkan perasaan
Terdapat dua teori yang mulai mengarahkan berdirinya psikologi sebagai ilmu. Kedua teori itu adalah (Fauzi, 1997:23-24)
a) Psikologi Nativistik atau Psikologi Pembawaan
Jiwa terdiri atas beberapa factor yang dibawa sejak lahir, yaitu pembawaan atau bakat. Frans Joseph Gall mencoba menemukan lokasi pembawaan itu dalam otak. Gall mengajukan metode Frenologi untuk mengenal seseorang dengan memeriksa tengkorak kepalanya. Namun, metode ini tidak bertahan lama, karena dianggap kurang kuat dasar ilmiahnya.
b) Psikologi Asosiasi atau Psikologi Empirik
Jiwa berisi ide-ide yang didapat melalui pancaindra dan saling diasosiakan satu sama lain, melalui prinsip:
1. Kesamaan
2. Kontras
3. Kelangsungan
Tingkah laku diterangkan melalui prinsip asosiasi ide-ide, misalnya: seorang bayi yang lapar diberi makanan oleh ibunya. Melalui pancaindranya, bayi mengetahui bahwa rasa lapar selalu diikuti makanan dan makanan itu menghilangkan rasa laparnya. Lama kelamaan rasa lapar diasosiasikan dengan makanan. Setiap kali lapar, mencari makanan.
Wundt untuk pertama kalinya memakai dan mendasarkan metode ini untuk psikologi secara ilmiah, menetapkan beberapa syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh eksperimen psikologi:
1. Kita harus menentukandengan tepat waktu terjadi gejala yang ingin kita selidiki
2. Kita harus mengikuti berlangsungnya gejala yang ingin kita selidiki dari mulanya sampai akhirnya, dan kita harus mengamatinya dengan perhatian khusus
3. Tiap-tiap observasi (pengamatan) harus dapat kita ulangi dalam keadaan-keadaan yang sama.
4. Kita harus mengubah-ubah dengan syarat-syarat keadaan eksperimen
Henryk Misiak dan Virginia Staudt Sexton (1988) bahwa pemisahan psikologi sebagai ilmu pengetahuan, yang disusul oleh orientasi afilosofis, tidak bisa menghalangi filsafat terutama fenomenologi dan eksistensialisme untuk memberikan pengaruhnya terhadap pemikiran dan metodologi psikologi.
Filsafat Kant, menyajikan substrktur filosofis bagi psikologi. Pada abad ini, tidak ada gerakan filsafat yang memberikan pengaruh yang lebih mendalam terhadap psikologi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentar yang Anda berikan